JAKARTA - Industri mebel dan furniture Indonesia memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional serta peluang ekspansi yang masih sangat luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen.
Namun, di tengah pasar furnitur global bernilai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih berada di bawah satu persen, mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan yang belum tergarap.
Tantangan utama industri furniture nasional bukan pada potensi produksi, melainkan pada konektivitas rantai nilai, mulai dari material, teknologi manufaktur, hingga akses pasar. Akses ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur telah terbentuk, namun masih memerlukan penguatan standardisasi, efisiensi, dan integrasi lintas sektor agar pelaku industri nasional, termasuk UMKM, dapat terhubung lebih langsung dengan jaringan pasar global.
Di sisi domestik, pasar furniture juga menunjukkan dinamika positif. Sepanjang kuartal pertama 2025, penjualan rumah berukuran kecil melonjak hingga 83,97 persen secara kuartalan, menciptakan permintaan lanjutan yang besar terhadap furnitur dan interior.
Pameran internasional berperan sebagai platform strategis untuk memperluas akses pasar Asia Tenggara dan global.
Pameran tidak lagi sekadar etalase produk, melainkan instrumen yang mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional, mitra teknologi, dan jaringan distribusi dalam satu ekosistem terhubung, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing regional.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir.
Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, dan diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor, 15.000 pengunjung, serta partisipasi dari 20 negara, termasuk Australia, Canada, China, Denmark, Finland, France, Gabon, Germany, Hong Kong, Indonesia, India, Italia, Malaysia, Singapura, Slovenia, South Korea, Sri Lanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat, mencerminkan skala dan daya tarik internasional platform ini.
“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd Mathias Kupper.
“Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furniture dalam satu ekosistem terkoordinasi, Indonesia memperkuat efisiensi industrinya sekaligus meningkatkan daya saing sebagai pusat manufaktur regional,” sambungnya. Sebagai bagian dari penyelarasan ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH secara bersama mengelola IFFINA+, interzum jakarta dan International Hardware Fair Indonesia serta bergabung bersama Wakeni dalam penyelenggaraan IFMAC WOODMAC, yang akan diselenggarakan beriringan, sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional, termasuk sekitar 50 persen pelaku UMKM pada IFFINA.
“Penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini,” ujar Ketua ASMINDO Dedy Rochimat yang berperan sebagai mitra strategis dan kolaborator industri dalam penyelenggaraan IFFINA+.
“Inisiatif ini mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir,” katanya.
source: JPNN.com